| INTRODUCTION OF SERVICES | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ketahui Potensi dan Bakat kita sejak dini Data dapat di jemput ( khusus daerah Kota Medan ) Konsultasi +- 1 jam dengan Psikolog Harga mulai dari Rp.30.000 ( Bervariatif ) Hub BB Pin : 234126AB HP : 085275882047 Special Price for Corporate Rate
Translate
Kamis, 21 Maret 2013
INTRODUCTION OF OUR SERVICES
Jumat, 15 Maret 2013
SEKAPUR SIRIH FINGERPRINT ANALYSIS
DERMATOGLYPHICS
Istilah Dermatoglyphics berasal dari kata bahasa yunani kuno, derma=”kulit,” glyph=”seni ukiran.” Dalam bahasa sederhana bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari pola sidikjari.
Ilmu Dermatoglyphics ditemukan oleh Prof. Harold Cummins di abad-20. Sejak tahun 1920, banyak sekali publikasi riset mengenai studi Dermatoglyphics dalam bidang medis, terutama kaitannya dengan kelainan genetis. Ilmu Dermatoglyphics didasari oleh metode ilmiah yang telah berlangsung lebih dari 200 tahun. Penelitian melahirkan fakta-fakta statistik dibidang antropologi, kedokteran, dan psikologi. SEBUAH TEROBOSAN
Saat ini area kecerdasan bakat dan potensi genetis seseorang dari sidik jari sejak usia dini, sehingga orang tua dapat memberikan stimulasi yang sesuai untuk tumbuh kembang serta minat anak dengan optimal.
Para ahli di bidang ilmu dermatologlyphics (ilmu yang mempelajarai pola sidik jari) dan kalangan neuro-anatomi (kedokteran-anatomi tubuh) telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan berusia 13 samapi 24 minggu. Pola guratan-gutan kulit pada sidik jari ternyata memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang. Analisa sidik jari (fingerprint analysis) merupakan sebuah metode pengukuran dan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang saling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak. Analisa Sidik Jari didasari oleh penelitian dan metode ilmiah yang bersifat analisis deskriptif atau perkiraan potensi bakat yang dimiliki seseorang dan pengembangannya di masa mendatang. ANALISA SIDIK JARI
Analisa sidik jari adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi, motivasi, karakter, dan gaya belajar anak.
Dalam ilmu Dermatoglyphics (ilmu tentang analisa pola sidik jari) yang diawali oleh Guard Bidloo pada tahun 1685, menemukan bahwa sejak usia kandungan (embrio) 13 minggu Pola sidik jari manusia telah terbentuk, dan akan lengkap diusia 24 minggu. Secara Genetis sidik jari bersifat menetap dan spesifik pada proses perkembangan susunan syaraf pusat, sehingga memiliki korelasi yang menentukan struktur otak yang dominan yang kemudian diinterpretasikan secara psikologi untuk mengetahui kecendrungan BAKAT, KECERDASAN, KARAKTER, MOTIVASI, TEKANAN, TINGKAT KESETABILAN DIRI, DAN GAYA (BELAJAR, BERFIKIR, DAN BEKERJA) secara genetis. Pembentukan pola sidik jari ini sangat berkaitan dengan perkembangan otak. Riset yang dilakukan seputar pengklasifikasian pola sidik jari dari sudut pandang antropologi, penelitian medis seputar hubungan pola sidik jari tertentu dengan indikasi kelainan mental dan kesehatan, dan riset statistik kalangan psikolog seputar hubungan pola sidik jari dengan kondisi mental dan kecerdasan, memberikan kontribusi atas lahirnya fingerprint analysis biometric system ini. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi biometrics, pembuatan aplikasi dan penggunaan teknologi semnakin memberikan harapan yang lebih besar atas perkembangan sistem fingerprint analysis menjadi lebih akurat. Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibadingkan dengan metode pengukuran lainnya (klaim akurasi 87%). Sehingga aplikasi penggunaan ilmu analisa sidik jaridalam kehidupan sangat luas. Salah satunya adalah pada proses intdentifikasi forensik dan keamanan. Proses analisa sidik jari simple, praktis, efesien, dan aplikatif. Bisa digunakan untuk segala usia segala kondisi dengan waktu yang relatif singkat. | MENGAPA TES ANALISA SIDIK JARI (FINGER PRINT)
Analisa sidik jari memiliki beberapa keunggulan;
AKURASI FINGERPRINT ANALYSIS BIOMETRIC SYSTEM
PERKEMBANGAN DAN KEGUNAAN ANALISA SIDIK JARI (FINGER PRINT)
Perkembangan Analisa Sidik Jari (finger print)pada saat ini;
ANALISA SIDIK JARI BUKAN RAMALAN !!!
|
PENGELOMPOKAN SIDIK JARI
Perkembangan ilmu Analisa Sidik Jariatau dermatoglyphics telah mengelompokkan pola-pola sidik jari berdasarkan struktur-stuktur yang ada pada sidik jari. Tipe-tipe sidik jari dikenal menjadi :
1. Simple Arch 2. Tented Arch 3. Ulnar Loop 4. Radial Loop 5. Peacock Eyes 6. Composite Whorl 7. Plain Whorl: Consentric, Spiral, Oval 8. Double Loop 9. Varian | PENGELOMPOKAN UTAMA KLASIFIKASI HAROLD CUMMINS
Pengelompokkan utama analisa sidik jari atau pola-pola sidik jari berdasarkan klasifikasi Harold Cummins, berdasarkan pattern area dan kehadiran titik-titik triradius (delta)
a. Arch b. Loop c. Whorl |
SEJARAH ILMU ANALISA SIDIK JARI (DERMATOGLYPHICS)
Analisa Sidik Jari (Dermatoglyphics) is a part of the biology, containing genetics and anatomy. Prints include loops and whorls on a finger, a palm and a foot that form and grow from a germinal layer starting from the 13th to 19th weeks in an embryo period. The fingerprint patterns are controlled by chromosomes, and geneticists have studied and proven that permutation of the prints is inherited. The number of ridges on a finger is decided by genes, which do not have dominant effect, rather than environmental influence.
John Evangelist Purkinji – 1823
In 1823, John Evangelist Purkinji, a professor of anatomy at the University of Breslau, published his thesis discussing 9 fingerprint patterns, but he too made no mention of the value of fingerprints for personal identification.
Sir William Hershel – 1856
The English first began using fingerprints in July of 1858, when Sir William Herschel, Chief Magistrate of the Hooghly district in Jungipoor, India, first used fingerprints on native contracts.
Dr. Henry Faulds – 1880
In 1880, Faulds forwarded an explanation of his classification system and a sample of the forms he had designed for recording inked impressions, to Sir Charles Darwin. Darwin, in advanced age and ill health, informed Dr. Faulds that he could be of no assistance to him, but promised to pass the materials on to his cousin, Francis Galton. Also in 1880, Dr. Faulds published an article in the Scientific Journal, "Nautre" (nature). He discussed fingerprints as a means of personal identification, and the use of printers ink as a method for obtaining such fingerprints. He is also credited with the first fingerprint identification of a greasy fingerprint left on an alcohol bottle.
Gilbert Thompson – 1882
In 1882, Gilbert Thompson of the U.S. Geological Survey in New Mexico, used his own fingerprints on a document to prevent forgery. This is the first known use of fingerprints in the United States.
Sir Francis Galton – 1888
A British anthropologist and a cousin of Charles Darwin, began his observations of fingerprints as a means of identification in the 1880's. In 1892, he published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints.
Galton's primary interest in fingerprints was as an aid in determining heredity and racial background. He was able to scientifically prove what Herschel and Faulds already suspected: that fingerprints do not change over the course of an individual's lifetime, and that no two fingerprints are exactly the same. According to his calculations, the odds of two individual fingerprints being the same were 1 in 64 billion.
Galton identified the characteristics by which fingerprints can be identified. These same characteristics are basically still in use today, and are often referred to as Galton's Details.
1901 Introduction of fingerprints for criminal identification in England and Wales, using Galton's observations and revised by Sir Edward Richard Henry. Thus began the Henry Classification System, used even today in all English speaking countries.
1902 First systematic use of fingerprints in the U.S. by the New York Civil Service Commission for testing. Dr. Henry P. DeForrest pioneers U.S. fingerprinting.
1903 The New York State Prison system began the first systematic use of fingerprints in U.S. for criminals.
1905 saw the use of fingerprints for the U.S. Army. Two years later the U.S. Navy started, and was joined the next year by the Marine Corp. During the next 25 years more and more law enforcement agencies join in the use of fingerprints as a means of personal identification. Many of these agencies began sending copies of their fingerprint cards to the National Bureau of Criminal Identification, which was established by the International Association of Police Chiefs.
1924 An act of congress established the Identification Division of the F.B.I.. The National Bureau and Leavenworth consolidated to form the nucleus of the F.B.I. fingerprint files.
1926 Harold Cummins, M.D. Doctor Cummins is universally acknowledged as the Father of Dermatoglyphics. Harold studied all aspects of fingerprint analysis, from anthropology to genetics, from embryology to the study of malformed hands with from two to seven fingers.(13) He pulled together the diverse work of his predecessors, added original research and set the standards of the field still in force to the present.
1946 The F.B.I. had processed 100 million fingerprint cards in manually maintained files; and by 1971, 200 million cards. With the introduction of AFIS technology, the files were split into computerized criminal files and manually maintained civil files.
From 1970, a large number of professional papers related to the dermatoglyphics were issued, and have proven that dermatoglyphics cannot be replaced in both physiology and psychology with great observation. Dermatoglyphics which is remarkable and changeless is analyzed and proven with evidence in anthropology, genetics, and statistics
From 1992 to 1994 The professional papers about dermatoglyphics focused on particular genetic medicine fields such as sudden infant death syndrome, endometriosis, Alzheimer’s disease, auditory processing disorders, nasal cavities and tracheas, immunity diseases, Tuberculosis and down syndrome.
1999 The FBI had planned to stop using paper fingerprint cards inside their new Integrated AFIS (IAFIS) site at Clarksburg WV. IAFIS will initially have individual computerized fingerprint records for approximately 33 million criminals. Old paper fingerprint cards for the civil files are still manually maintained in a warehouse facility in Fairmont, WV. The FBI hopes to someday classify and file these cards so they can be of value for unknown casualty identification. James Jasinski, the FBI's program manager for IAFIS, said the new system should cut down the time to run the process fingerprint-based background checks to two hours in criminal cases. He saidtraditional fingerprint background checks can take from eight days to three months - too long for many officials who need background checks conducted quickly so they can make quick decisions on conducting investigations or setting bail.
2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society
Nowadays the U.S., Japan or Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.
John Evangelist Purkinji – 1823
In 1823, John Evangelist Purkinji, a professor of anatomy at the University of Breslau, published his thesis discussing 9 fingerprint patterns, but he too made no mention of the value of fingerprints for personal identification.
Sir William Hershel – 1856
The English first began using fingerprints in July of 1858, when Sir William Herschel, Chief Magistrate of the Hooghly district in Jungipoor, India, first used fingerprints on native contracts.
Dr. Henry Faulds – 1880
In 1880, Faulds forwarded an explanation of his classification system and a sample of the forms he had designed for recording inked impressions, to Sir Charles Darwin. Darwin, in advanced age and ill health, informed Dr. Faulds that he could be of no assistance to him, but promised to pass the materials on to his cousin, Francis Galton. Also in 1880, Dr. Faulds published an article in the Scientific Journal, "Nautre" (nature). He discussed fingerprints as a means of personal identification, and the use of printers ink as a method for obtaining such fingerprints. He is also credited with the first fingerprint identification of a greasy fingerprint left on an alcohol bottle.
Gilbert Thompson – 1882
In 1882, Gilbert Thompson of the U.S. Geological Survey in New Mexico, used his own fingerprints on a document to prevent forgery. This is the first known use of fingerprints in the United States.
Sir Francis Galton – 1888
A British anthropologist and a cousin of Charles Darwin, began his observations of fingerprints as a means of identification in the 1880's. In 1892, he published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints.
Galton's primary interest in fingerprints was as an aid in determining heredity and racial background. He was able to scientifically prove what Herschel and Faulds already suspected: that fingerprints do not change over the course of an individual's lifetime, and that no two fingerprints are exactly the same. According to his calculations, the odds of two individual fingerprints being the same were 1 in 64 billion.
Galton identified the characteristics by which fingerprints can be identified. These same characteristics are basically still in use today, and are often referred to as Galton's Details.
1901 Introduction of fingerprints for criminal identification in England and Wales, using Galton's observations and revised by Sir Edward Richard Henry. Thus began the Henry Classification System, used even today in all English speaking countries.
1902 First systematic use of fingerprints in the U.S. by the New York Civil Service Commission for testing. Dr. Henry P. DeForrest pioneers U.S. fingerprinting.
1903 The New York State Prison system began the first systematic use of fingerprints in U.S. for criminals.
1905 saw the use of fingerprints for the U.S. Army. Two years later the U.S. Navy started, and was joined the next year by the Marine Corp. During the next 25 years more and more law enforcement agencies join in the use of fingerprints as a means of personal identification. Many of these agencies began sending copies of their fingerprint cards to the National Bureau of Criminal Identification, which was established by the International Association of Police Chiefs.
1924 An act of congress established the Identification Division of the F.B.I.. The National Bureau and Leavenworth consolidated to form the nucleus of the F.B.I. fingerprint files.
1926 Harold Cummins, M.D. Doctor Cummins is universally acknowledged as the Father of Dermatoglyphics. Harold studied all aspects of fingerprint analysis, from anthropology to genetics, from embryology to the study of malformed hands with from two to seven fingers.(13) He pulled together the diverse work of his predecessors, added original research and set the standards of the field still in force to the present.
1946 The F.B.I. had processed 100 million fingerprint cards in manually maintained files; and by 1971, 200 million cards. With the introduction of AFIS technology, the files were split into computerized criminal files and manually maintained civil files.
From 1970, a large number of professional papers related to the dermatoglyphics were issued, and have proven that dermatoglyphics cannot be replaced in both physiology and psychology with great observation. Dermatoglyphics which is remarkable and changeless is analyzed and proven with evidence in anthropology, genetics, and statistics
From 1992 to 1994 The professional papers about dermatoglyphics focused on particular genetic medicine fields such as sudden infant death syndrome, endometriosis, Alzheimer’s disease, auditory processing disorders, nasal cavities and tracheas, immunity diseases, Tuberculosis and down syndrome.
1999 The FBI had planned to stop using paper fingerprint cards inside their new Integrated AFIS (IAFIS) site at Clarksburg WV. IAFIS will initially have individual computerized fingerprint records for approximately 33 million criminals. Old paper fingerprint cards for the civil files are still manually maintained in a warehouse facility in Fairmont, WV. The FBI hopes to someday classify and file these cards so they can be of value for unknown casualty identification. James Jasinski, the FBI's program manager for IAFIS, said the new system should cut down the time to run the process fingerprint-based background checks to two hours in criminal cases. He saidtraditional fingerprint background checks can take from eight days to three months - too long for many officials who need background checks conducted quickly so they can make quick decisions on conducting investigations or setting bail.
2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society
Nowadays the U.S., Japan or Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.
Petunjuk mengetahui Signal,Ciri-Ciri dan Cara Stimulasi Bakat kita
Multiple Intelligence
1. Logis Matematis
Kemampuan untuk mengeksplorasi pola – pola kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau symbol dan dengan eksperimen menurut cara yang terkendali dan teratur. Kemampuan untuk menalar baik secara deduktif atau induktif dan untuk mengenali dan memanipulasi pola – pola abstrak dan hubungan – hubungan.
Ciri – ciri :
• Suka hal-hal yang bersifat matematik atau ilmiah
• Senang permainan yang membutuhkan strategi seperti puzzle dan catur
• Senang menyelidiki fenomena alam dan kejadian untuk hal – hal yang baru.
Cara menstimulasinya:
· Bermain games yang menggunakan strategi dan logis sperti catur dan domino.
· Mendorong anak berani berpendapat atau opini terhadap kejadian, cerita dan film
· Menonton program televise yang berkaitan dengan matematika atau pengetahuan
· Selalu melibatkan anak dalam berbagai aktivitas dalam keseharian
· Mendaftarkan anak kursus dalam mental aritmatika
· Belajar mengoperasikan computer dan software ringan
· Mendorong anak untuk berfikir dan menyelesaikan masalah
· Membeli bahan atau perlengkapan untuk kepentingan percobaan yang dilakukan oleh anak.
Contoh Karir : Programmer, banker, akuntan, ahli statistic, analisa data, pialang, auditor, manajer pembelian, jaksa, peneliti dan profesi kesehatan serta Teknisi computer
2. Linguistik
Kemampuan untuk menggunakan bahasa guna menjadikan sebuah informasi menarik diterima dan meyakinkan. Melibatkan tidak hanya kemudahan dalam menghasilkan data namun juga sensitivitas terhadap tata letak dan ritme kata.
Ciri-ciri:
· Senang berinteraksi, tulis menulis dan debat
· Senang mendengarkan orang lain dan senang dengan pertanyaan
· Senang membuat audience mendengarkan pendapatnya dan memiliki kosakata yang bagus
· Senang bermain dengan kata – kata.
· Senang baca tulis dan memahami fungsi bahasa baik dalam menghafal tempat, nama dan tanggal
Cara menstimulasinya:
· Main games huruf, kata – kata dan puzlle kata silang
· Mendorong untuk gemar membaca dan orang tua menyediakan tempat khusus membaca di rumah.
· Belajar dan menulis dengan mendengarkan
· Didorong untuk mengungkapkan pendapat sendiri
· Belajar bahasa lain
3. Intrapersonal
Kemampuan untuk memahami perasaan, impian dan ide
Ciri-ciri:
· Mampu menempatkan kesenangan atau ketidaksenangan terhadap aktivitas tertentu.
· Dapat mengkomunikasikan perasaan
· Peduli terhadap kelemahan dan kekuatan
· Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki
· Mampu untuk menempatkan tujuan – tujuan yang sesuai
· Mampu untuk bekerja meraih cita citanya
· Baik dalam memahami dirinya sendiri
· Baik dalam memahami dan mengamati instingnya
· Senang menjadi dirinya sendiri
Cara menstimulasi:
· Tanya anak mengenai pendapat sendiri
· Mendorong anak untuk berfikir tentang kejadian hari ini dan menuliskannya
· Menyediakan buku perkembangan dirinya sendiri
· Menetapkan tujuan bersama dengan anak – anak
· Mendorong bertanya dan melakukan kegiatan bersama- sama
· Mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan emosinya
Karir yang sesuai : Psikolog, terapis, filosofis, pemimpin keagamaan, pekerja social, pembimbing meditasi, pemimpin organisasi, trainer, professional dalam bidang kesehatan mental
4. Interpersonal
Kemampuan untuk memahami orang lain.
Ciri-ciri :
· Menunjukkan ras empati terhadap orang lain
· Berhubungan baik dengan rekan sebaya dan orang yang lebih dewasa
· Menunjukkan kecakapan kepemimpinan
· Bekerjasama dengan baik dengan orang lain
· Sensitive terhadap perasaan orang lain
· Baik dalam mengatur, mengkomunikasikan dan kadang kala memanipulasi seseorang
Cara menstimulasi :
· Mendorong anak untuk mengunjungi teman dan berinteraksi
· Mendorong anaka untuk berbagi pendapat
· Mendorong mengamati orang lain (gerak gerik dan ekspresi) dan mendiskusikan apa yang diamati dan artinya
· Mendorong untuk berpartisipasi dalam kerja social
· Mendorong anak untuk berpikir dari sedut pandang yang berbeda
· Mendiskusikan sifat – sifat tokoh dalam film atau buku
Karir yang sesuai : guru, antropologis, pemimpin organisasi, costummer service, public relation, sales , travel agent, sosiologis, pembawa acara talk show politisi dan konsultan
5. Body Kinestetik
Kemampuan untuk menggunakan motorik kasar dan halus dalam olahraga seni dan produksi kerajinan. Intelegensi ini melibatkan tubuh untuk menyelesaikan masalah, menghasilkan produk dan untuk menuangkan ide dan emosi.
Ciri-ciri:
• Memiliki keseimbangan yang baik, ritme yang baik
• Memiliki gerakan yang indah
• Dapat membaca bahasa tubuh
• Memiliki koordinasi yang baik antara tangan dan mata
• Dapat menyelesaikan masalah dengan cara mengerjakan
• Dapat mengkomunikasikan ide melalui gerak- gerik
• Baik dalam aktivitas fisik dan seni
Cara menstimulasi :
· Mendorong untuk menjawab pertanyaan dengan bahasa tubuh
· Mendorong untuk membuat karya ketrampilan tangan
· Mendorong partisipasi dalam aktivitas olahraga dan tarian
· Bermain permainan untuk meningkatkan koordinasi Syaraf- otot
Karir yang sesuai : atlet, fisioterapis, model, mekanik, koreografer, artis, pembuat kerajinan, penemu, penari, artis sirkus, dokter, perawat, pelatih olahraga dan militer.
6. Visual Spasial
Kemampuan untuk memanipulasi sebuah bentuk atau objek dan untuk menciptakan keseimbangan dan komposisi dalam tampilan visual atau spasial.
Ciri-ciri:
· Senang menggambar dan merancang bangun.
· Senang puzzle
· Memperhatikan detail
· Mengingat tempat dengan bantuan penjelasan atau gambar
· Dapat membaca peta
· Memiliki orientasi yang baik.
· Baik dalam menggambarkan benda, membaca peta dan kurva.
Cara menstimulasi:
· Mendorong visualisasi dan konseptualisasi bahan bacaan
· Mendorong bermain permainan yang memerlukan penggunaan visualisasi.
· Mendorong untuk melontarkan ide dan pemikiran melalui gambar dan grafik untuk mengekspresikan diri mereka sendiri.
· Mendaftarkan anak ke kursus membuat kerajinan, gambar, dan fotografi.
Karir yang sesuai : dekorator interior, desainer interior, fotografer, arsitek, pilot, ahli bedah, pelukis, pemahat, chef, illustrator buku, pemandu wisata, desainer baju dan perhiasan.
7. Musikal
Adalah kemampuan untuk menikmati, memainkan, dan membuat karya musical. Termasuk juga sensitivitas dalam ritme suara, dan respon terhadap dampak emosional elemen-elemen ini.
Ciri-ciri:
· Memiliki sensitivitas dalam pola-pola suara.
· Membedakan suara dengan jelas.
· Mencari dan menikmati pengalaman musical.
Cara menstimulasinya:
· Mendorong untuk menyanyi
· Mendaftarkan anak ke les music.
· Mendorong anak untuk mendengarkan music selama membaca atau relaksasi.
· Mendorong anak untuk mendengarkan ritme alam dan mencoba untuk menemukan polanya.
· Mendorong untuk menggunakan lagu untuk mengekspresikan perasaan.
Karir yang sesuai : terapis musik, guru musik, penulis lagu, konduktor, pemain instrument musik.
8. Naturalis
Merupakan kemampuan untuk mengenali flora dan fauna, serta fenomenanya.
Ciri-ciri:
· Senang kegiatan outdoor, binatang, tumbuhan, dan benda-benda alam lain.
· Senang dan memperhatikan hal-hal semisal perubahan cuaca, perubahan daun di musim gugur, suara angin, hangatnya matahari, atau juga seekor serangga di ruangan.
· Mungkin membawa pulang binatang dari luar, dan memiliki binatang peliharaan serta ingin memiliki lagi.
Cara menstimulasinya:
· Mendorong aktivitas yang berkaitan dengan alam
· Mendorong membaca bahan yang berkaitan dengan topik ini
· Mendorong untuk mengamati, mengapresiasi, dan mendengarkan siklus dan suara alam.
· Mendorong hoby yang berkaitan dengan alam, seperti berkebun, memilihara binatang.
Karir yang sesuai : penjaga hutan, pelatih binatang, penjaga kebun binatang, ahli pertanahan, botanis, ilmuwan, peneliti burung, dokter hewan, petani/peternak, penjaga kelestarian hutan.
Temukan potensi/bakat dan kecerdasan alamiah anak anda dengan mengikuti analisa sidik jari DIC enrichment (untuk mengetahui gaya belajar, motivasi dan multiple intelligences) dan Talent Spectrum (untuk mengetahui bakat, working style dan aspekentrepreneurship).
Intinya semua informasi diatas menerangkan bahwa setiap orang (tidak hanya anak) membutuhkan arahan potensi bakat, baik dalam hal pelajaran maupun pekerjaan.
Jadi apabila anda membutuhkan informasi lebih lanjut jangan segan-segan menghubungi :
TALENTA SUKSES MAKMUR
Komplek Merbau Mas Blok Ruko No.51 Medan
Sumatera Utara
Telp : (061)4146673
Flexi : (061)77410779
Hp : 085275882047
BB : 234126AB
Langganan:
Postingan (Atom)