Translate

Jumat, 15 Maret 2013

SEKAPUR SIRIH FINGERPRINT ANALYSIS


DERMATOGLYPHICS

Istilah Dermatoglyphics berasal dari kata bahasa yunani kuno, derma=”kulit,” glyph=”seni ukiran.” Dalam bahasa sederhana bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari pola sidikjari.

Ilmu Dermatoglyphics ditemukan oleh Prof. Harold Cummins di abad-20. Sejak tahun 1920, banyak sekali publikasi riset mengenai studi Dermatoglyphics dalam bidang medis, terutama kaitannya dengan kelainan genetis. Ilmu Dermatoglyphics didasari oleh metode ilmiah yang telah berlangsung lebih dari 200 tahun. Penelitian melahirkan fakta-fakta statistik dibidang antropologi, kedokteran, dan psikologi. 

SEBUAH TEROBOSAN

Saat ini area kecerdasan bakat dan potensi genetis seseorang dari sidik jari sejak usia dini, sehingga orang tua dapat memberikan stimulasi yang sesuai untuk tumbuh kembang serta minat anak dengan optimal.

Para ahli di bidang ilmu dermatologlyphics (ilmu yang mempelajarai pola sidik jari) dan kalangan neuro-anatomi (kedokteran-anatomi tubuh) telah menemukan fakta penelitian bahwa pola sidik jari bersifat genetis dan telah muncul ketika janin dalam kandungan berusia 13 samapi 24 minggu. Pola guratan-gutan kulit pada sidik jari ternyata memiliki keterkaitan dengan sistem hormon pertumbuhan sel pada otak. Bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.

Analisa sidik jari (fingerprint analysis) merupakan sebuah metode pengukuran dan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang saling dominan dalam kaitannya dengan potensi bakat, motivasi, karakter dan gaya belajar anak. Analisa Sidik Jari didasari oleh penelitian dan metode ilmiah yang bersifat analisis deskriptif atau perkiraan potensi bakat yang dimiliki seseorang dan pengembangannya di masa mendatang.

ANALISA SIDIK JARI 

Analisa sidik jari adalah sebuah metode pengukuran dengan pemindaian (scanning) sidik jari anak untuk mengetahui gaya bekerja otak yang paling dominan dalam kaitannya dengan potensi, motivasi, karakter, dan gaya belajar anak.

Dalam ilmu Dermatoglyphics (ilmu tentang analisa pola sidik jari) yang diawali oleh Guard Bidloo pada tahun 1685, menemukan bahwa sejak usia kandungan (embrio) 13 minggu Pola sidik jari manusia telah terbentuk, dan akan lengkap diusia 24 minggu. 

Secara Genetis sidik jari bersifat menetap dan spesifik pada proses perkembangan susunan syaraf pusat, sehingga memiliki korelasi yang menentukan struktur otak yang dominan yang kemudian diinterpretasikan secara psikologi untuk mengetahui kecendrungan BAKAT, KECERDASAN, KARAKTER, MOTIVASI, TEKANAN, TINGKAT KESETABILAN DIRI, DAN GAYA (BELAJAR, BERFIKIR, DAN BEKERJA) secara genetis. 

Pembentukan pola sidik jari ini sangat berkaitan dengan perkembangan otak. Riset yang dilakukan seputar pengklasifikasian pola sidik jari dari sudut pandang antropologi, penelitian medis seputar hubungan pola sidik jari tertentu dengan indikasi kelainan mental dan kesehatan, dan riset statistik kalangan psikolog seputar hubungan pola sidik jari dengan kondisi mental dan kecerdasan, memberikan kontribusi atas lahirnya fingerprint analysis biometric system ini.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi biometrics, pembuatan aplikasi dan penggunaan teknologi semnakin memberikan harapan yang lebih besar atas perkembangan sistem fingerprint analysis menjadi lebih akurat. Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi dibadingkan dengan metode pengukuran lainnya (klaim akurasi 87%). Sehingga aplikasi penggunaan ilmu analisa sidik jaridalam kehidupan sangat luas. Salah satunya adalah pada proses intdentifikasi forensik dan keamanan. Proses analisa sidik jari simple, praktis, efesien, dan aplikatif. Bisa digunakan untuk segala usia segala kondisi dengan waktu yang relatif singkat.

MENGAPA TES ANALISA SIDIK JARI (FINGER PRINT)

Analisa sidik jari memiliki beberapa keunggulan;

  1. Spesific, tidak ada pola sidik jari yang sama di tiap manusia. Kemungkinan sama, perbandingannya adalah 1:64.000.000.000; 
  2. Permanentpola sidik jari tidak pernah berubah sepanjang hayat;
  3. Classified & Measurablepola sidik jari memiliki spesifikasi unik di tiap bagian-bagian jari tangan, kaki dann telapak.
  4. Selain itu juga analisa sidik jari simpel, praktis dan efisien. Tidak ada pertanyaan yang sifatnya subyektif serta tingkat akurasi tinggi.

AKURASI FINGERPRINT ANALYSIS BIOMETRIC SYSTEM

  • Data sampling valid dan stabil, karena menggunakan sidik jari.  Akurasi 100%.
  • Proses Pengolahan data, bersifat kuantitatif, proses penghitungan mencapai akurasi 100%.
  • Analisa dan pengolahan ektraksi gambar, memiliki akurasi sampai dengan 87%.
  • Secara keseluruhan, analisa ini memiliki akurasi sampai dengan 60-87% untuk pengukuran aspek genetis.
  • Analisa ini adalah tidak mengukur kondisi faktual, dikarenakan hanya aspek genetik yang diukur, sementa faktor lingkungan tidak terukur dalam analisa ini. 

PERKEMBANGAN DAN KEGUNAAN ANALISA SIDIK JARI (FINGER PRINT)

 Perkembangan Analisa Sidik Jari (finger print)pada saat ini;

  1. Alat identifikasi forensik, sebagaimana dikembangkan oleh kepolisian dan FBI, dan pengembang sistem absensi sidikjari;
  2. Penelitian sudut pandang antropologi. Diantaranya Frans Galton, John E Purkinje.
  3. Penelitian medis mengenai kelainan kesehatan mental secara genetik. Diantaranya Harold Cummins.
  4. Penelitian dari sudut pandang psikologi. Diantaranya Beverly C. Jeager, Charlotte Wolff. Sementara itu, analisa sidik jari sudah dikenal lebih dari ribuan tahun dalam kebudayaan Cina, India dan Latin dsb dalam bentuk kepercayaan terhadap kondisi peruntungan dan keselamatan seseorang. 

ANALISA SIDIK JARI BUKAN RAMALAN !!!

  • Analisa Bakat dari Sidik Jari mengunakan ilmuDERMATOGLYPHICS dan peramal mengunakan ilmu PALMISTRY
  • Tes sidik jari bertujuan mengungkap Potensi Genetis sebagai referensi untuk menentukan sukses di masa yang akan datang, dan ramalan bertujuan untuk mengetahui keadaan masa yang akan datang.
  • Tes sidik jari berdasarkan teori ilmiah dengan menggunakan metode dan sumber data ilmiah serta proses perhitungan yang logis dan transparan.
  • Dalam pengujian hasil akhir tes sidik jari didasarkan data statistika dengan melibatkan ilmu Anatomi, Genetika Kedokteran (khusus fungsi bagian otak), Psikologi Modern yang diaplikasikan dalam sistem Kompoterisasi Biometrik .

PENGELOMPOKAN SIDIK JARI

Perkembangan ilmu Analisa Sidik Jariatau dermatoglyphics telah mengelompokkan pola-pola sidik jari berdasarkan struktur-stuktur yang ada pada sidik jari. Tipe-tipe sidik jari dikenal menjadi :
1. Simple Arch
2. Tented Arch
3. Ulnar Loop
4. Radial Loop
5. Peacock Eyes
6. Composite Whorl
7. Plain Whorl: Consentric, Spiral, Oval
8. Double Loop
9. Varian

PENGELOMPOKAN UTAMA KLASIFIKASI HAROLD CUMMINS

Pengelompokkan utama analisa sidik jari atau pola-pola sidik jari berdasarkan klasifikasi Harold Cummins, berdasarkan pattern area dan kehadiran titik-titik triradius (delta)
a. Arch
b. Loop
c. Whorl
Picture

SEJARAH ILMU ANALISA SIDIK JARI (DERMATOGLYPHICS)

 Analisa Sidik Jari (Dermatoglyphics) is a part of the biology, containing genetics and anatomy. Prints include loops and whorls on a finger, a palm and a foot that form and grow from a germinal layer starting from the 13th to 19th weeks in an embryo period. The fingerprint patterns are controlled by chromosomes, and geneticists have studied and proven that permutation of the prints is inherited. The number of ridges on a finger is decided by genes, which do not have dominant effect, rather than environmental influence.

John Evangelist Purkinji – 1823
In 1823, John Evangelist Purkinji, a professor of anatomy at the University of Breslau, published his thesis discussing 9 fingerprint patterns, but he too made no mention of the value of fingerprints for personal identification.
Sir William Hershel – 1856
The English first began using fingerprints in July of 1858, when Sir William Herschel, Chief Magistrate of the Hooghly district in Jungipoor, India, first used fingerprints on native contracts.

Dr. Henry Faulds – 1880
In 1880, Faulds forwarded an explanation of his classification system and a sample of the forms he had designed for recording inked impressions, to Sir Charles Darwin. Darwin, in advanced age and ill health, informed Dr. Faulds that he could be of no assistance to him, but promised to pass the materials on to his cousin, Francis Galton. Also in 1880, Dr. Faulds published an article in the Scientific Journal, "Nautre" (nature). He discussed fingerprints as a means of personal identification, and the use of printers ink as a method for obtaining such fingerprints. He is also credited with the first fingerprint identification of a greasy fingerprint left on an alcohol bottle.

Gilbert Thompson – 1882
In 1882, Gilbert Thompson of the U.S. Geological Survey in New Mexico, used his own fingerprints on a document to prevent forgery. This is the first known use of fingerprints in the United States.

Sir Francis Galton – 1888
A British anthropologist and a cousin of Charles Darwin, began his observations of fingerprints as a means of identification in the 1880's. In 1892, he published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints.
Galton's primary interest in fingerprints was as an aid in determining heredity and racial background. He was able to scientifically prove what Herschel and Faulds already suspected: that fingerprints do not change over the course of an individual's lifetime, and that no two fingerprints are exactly the same. According to his calculations, the odds of two individual fingerprints being the same were 1 in 64 billion.
Galton identified the characteristics by which fingerprints can be identified. These same characteristics are basically still in use today, and are often referred to as Galton's Details.

1901 Introduction of fingerprints for criminal identification in England and Wales, using Galton's observations and revised by Sir Edward Richard Henry. Thus began the Henry Classification System, used even today in all English speaking countries.

1902 First systematic use of fingerprints in the U.S. by the New York Civil Service Commission for testing. Dr. Henry P. DeForrest pioneers U.S. fingerprinting.
1903 The New York State Prison system began the first systematic use of fingerprints in U.S. for criminals.

1905 saw the use of fingerprints for the U.S. Army. Two years later the U.S. Navy started, and was joined the next year by the Marine Corp. During the next 25 years more and more law enforcement agencies join in the use of fingerprints as a means of personal identification. Many of these agencies began sending copies of their fingerprint cards to the National Bureau of Criminal Identification, which was established by the International Association of Police Chiefs.

1924 An act of congress established the Identification Division of the F.B.I.. The National Bureau and Leavenworth consolidated to form the nucleus of the F.B.I. fingerprint files.

1926 Harold Cummins, M.D. Doctor Cummins is universally acknowledged as the Father of Dermatoglyphics. Harold studied all aspects of fingerprint analysis, from anthropology to genetics, from embryology to the study of malformed hands with from two to seven fingers.(13) He pulled together the diverse work of his predecessors, added original research and set the standards of the field still in force to the present.

1946 The F.B.I. had processed 100 million fingerprint cards in manually maintained files; and by 1971, 200 million cards. With the introduction of AFIS technology, the files were split into computerized criminal files and manually maintained civil files.

From 1970, a large number of professional papers related to the dermatoglyphics were issued, and have proven that dermatoglyphics cannot be replaced in both physiology and psychology with great observation. Dermatoglyphics which is remarkable and changeless is analyzed and proven with evidence in anthropology, genetics, and statistics

From 1992 to 1994 The professional papers about dermatoglyphics focused on particular genetic medicine fields such as sudden infant death syndrome, endometriosis, Alzheimer’s disease, auditory processing disorders, nasal cavities and tracheas, immunity diseases, Tuberculosis and down syndrome.

1999 The FBI had planned to stop using paper fingerprint cards inside their new Integrated AFIS (IAFIS) site at Clarksburg WV. IAFIS will initially have individual computerized fingerprint records for approximately 33 million criminals. Old paper fingerprint cards for the civil files are still manually maintained in a warehouse facility in Fairmont, WV. The FBI hopes to someday classify and file these cards so they can be of value for unknown casualty identification. James Jasinski, the FBI's program manager for IAFIS, said the new system should cut down the time to run the process fingerprint-based background checks to two hours in criminal cases. He saidtraditional fingerprint background checks can take from eight days to three months - too long for many officials who need background checks conducted quickly so they can make quick decisions on conducting investigations or setting bail.

2004 IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society
Nowadays the U.S., Japan or Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar